Bangkalan Madani: Super-Man vs Super-Team

Senin (16/09/2019), Bupati Bangkalan periode 2003-2013, RKH. Fuad Amin Imron meninggal dunia di saat dirinya tengah menjalani hukuman atas kasus korupsi yang menimpanya.

Saat ini, Rabu (15/01/2020) kita berdiskusi bersama dalam rangka memperingati “100 Hari” Ra Fuad -sapaan akrabnya- di Bangkalan yang telah ‘dibangun’nya selama lebih dari satu dekade. Buku berjudul “Ra Fuad & Civil Society” karya Aliman Harish dan kawan-kawan dijadikan sebagai pemantik diskusi. Awal saya mengira posisi sebagai pembanding membuat saya sebagai pembahas buku dari sudut pandang berbeda an sich. Pasca diskusi singkat dengan panitia, saya diberitahu bahwa hanya sekedar pemantik dan diskusi diarahkan bagaimana “membaca” Bangkalan dulu dan kini dengan titik pijak sosok fenomenal, Ra Fuad.

Buku “Ra Fuad & Civil Society” adalah buku terbitan lama. Diterbitkan mandiri oleh LSM bernama Lembaga Kajian Sosial Demokrasi (LeKSDam) pada Maret 2004. Ada rentang waktu sekitar 16 tahun yang membuat buku yang ditulis tepat setahun Ra Fuad memerintah Bangkalan pada periode pertamanya ini. Tidak banyak yang dapat saya bahas karena buku ini tak lebih dari ‘biografi singkat’ sosok Ra Fuad dan lebih nampak sebagai pujian semata. Saya tidak yakin saat ini, posisi penulis akan sama dengan apa yang ditulisnya dalam buku yang menurut saya terburu-buru ditulis. Semestinya, buku ini terbit tepat satu tahun periode kedua Ra Fuad memimpin yakni tahun 2009.

Bisa jadi kita sekarang banyak “timpang” menilai Ra Fuad vis a vis isi buku yang kita jadi pemantik diskusi kali ini. Tidak keliru, walaupun tidak 100% benar. Jika buku ini ditulis pada awal 2004, maka dapat dipahami jikalau ada “harapan besar” terhadap Ra Fuad sebagai sosok ‘sipil’ baru yang menjadi pemimpin Bangkalan. Pemimpin Bangkalan sebelum Ra Fuad, identik dengan sosok militer. Ironisnya, kita memiliki bayangan kelam mengenai kepemimpinan militer selama Orde Baru berkuasa di Indonesia. Artinya euforia “harapan besar” yang tertuang pada buku ini bisa dimaklumi jika pendekatan historis kita pakai.

Saya malah memiliki harapan lebih bahwa buku ini bisa diproduksi ulang dengan tentunya sejumlah revisi sesuai dengan fakta sejarah sosial politik Bangkalan yang telah dillaluinya. Judulnya bisa menjadi “Hitam-Putih Ra Fuad: 10 Tahun Membangun Bangkalan Madani” atau lainnya yang sejenis. Apalagi sudah banyak karya yang mengambil sosok Ra Fuad sebagai inspirasi tulisannya seperti “Menabur Karisma Menuai Kuasa: Kiprah Kiai dan Blater Sebagai Rezim Kembar di Madura (2004) karya Abdur Rozaki atau bukunya yang lain berjudul “Islam, Oligarki Politik, dan Perlawanan Sosial” dan diterbitkan tahun 2016. Buku kedua ini jauh lebih relevan membaca Ra Fuad walaupun tetap berupa kritik atas “kultus” individu sosok cicit Syaikhona Cholil Bangkalan itu.

Leave a Reply