Kepada Yth Mas Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

Salam and shalom

Selamat sore di hari Ahad yang cerah selepas hujan

Pertama kali mengetahui anda secara langsung saat berkunjung ke almamater saya pada 2010 sebagai anggota DPR-RI . Anda membagikan buku biografi yang mengisahkan kesuksesan sebagai bupati yang belum jua diselesaikan dilewati untuk maju sebagai gubernur. Tidak berhasil di pemilihan ini, anda ternyata ditakdirkan Tuhan sebagai wakil konstituen di Senayan.

Mas Ahok, rupanya Tuhan tak berhenti di sana dalam menakdirkan anda. Di tengah jalan atas lobi Mas Prabowo Subianto anda berkenan menemani sosok fenomenal Mas Joko Widodo maju dalam pemilihan Gubernur DKI 2012. Anda pun terpilih dan bisa menjadi pemimpin ibukota negara sesuai ‘deklarasi’mu saat di Berlin pada awal 2008. Pada saat itu anda menulis mimpi akan menjadi pemimpin Jakarta 5 tahun kemudian. Mimpi itupun jadi kenyataan. Saya masih ingat dan tetap menyimpan pesan anda agar kami yang aktivis dan berniat terjun pada politik agar maksimal pada 2012 sudah menjadi anggota partai politik dan minimal pada 2014 memberanikan diri mencalonkan diri sebagai kandidat anggota legislatif di level kabupaten/kota. Saat itu anda benar-benar menjadi idola saya. Walau kita memiliki perbedaan tak pernah aku memikirkannya. Anda adalah Mas Ahok. Itu saja yang kutahu dan ingin kutahu.

Saya suka dengan gaya anda sebagai anggota DPR. Anda berbeda walau berasal dari partai ‘incumbent’. Gaya fenomenal itu tetiba berubah, Mas. Anda sejak menjadi pemimpin di Jakarta lebih banyak marah, berteriak lantang dan nampak emosional. Itupun di depan kamera. Saya tidak melihat itu natural, Mas. Karena sejak 2010 hingga 2012 tidak kutemui gaya itu padamu. Mas Ahok, saat menjadi pemimpin Jakarta maka sorotan kamera akan lebih banyak mengarah pada anda. Tiap aksi dan reaksi anda pun akan menjadi bahasan publik. Mas, saya cuman mau bilang bahwa tegas itu beda dengan marah-marah, teriakan keras dan emosional apalagi sebagai publik figur sekaligus pejabat negara. Saya sempat menyampaikan dukungan tatkala banyak ‘rekan’ mempermasalahkan anda karena agama. Bagi saya, anda adalah anda.

Tapi Mas Ahok, akhir-akhir ini kenapa ‘ketidaknaturalan’ itu serasa makin menjadi. Anda kembali marah, berteriak dan emosional dengan tuduhan bahwa DPRD memasukkan dana ‘siluman’ dalam RAPBD. Nilainya sangat fantastis, 12 triliun rupiah. Tuduhan itu anda teriakkan dengan sangat emosional di depan kamera. Publik pun terpecah dalam menanggapi ‘aksi’ ini. Ada yang mendukung hingga menghasilkan petisi ‪#‎SaveAhok‬termasuk media-media mainstream pun beralih padamu dan memojokkan DPRD DKI Jakarta. Maka saat ini DPRD nampak seperti setan dan anda adalah malaikat. Pola ‘binary populism’ ini sangat berbahaya, Mas Ahok. Efek dari aksi anda adalah publik terseret pada kubu anda pasti benar dan DPRD pasti salah. Tahukah efek dari aksi anda, Mas?

Mari kita perjernih sedikit tentang kasus yang anda permasalahkan itu. Anda merujuk pada APBD 2014 dimana terdapat banyak ‘penyelewengan’ dana di sektor pendidikan dalam hal ini berarti Disdik DKI Jakarta. Melalui aksi anda dan dikutip media ada alat bernama UPS yang menurut pemberitaan media yang entah apa masih menjadi pilar ke empat demokrasi atau tidak harganya pada interval ratusan ribu hingga paling mahal 99juta rupiah. Tertulis di APBD 2014 adalah 6 miliar rupiah per unitnya. Walau tentu beda spek dan kualitas lalu publik pun bertepuk tangan menganggap anda sangat berani bak pahlawan dan DPRD adalah kumpulan bandit tanpa kecuali.

Mas Ahok benarkah jika saya katakan bahwa pembelian UPS dengan harga 6 miliar itu terjadi pada APBD DKI Jakarta tahun 2014. Apa artinya Mas? Yah, sangat sederhana itu ditandangani oleh Mas Joko Widodo dan tentu anda tahulah. Jika DPRD anda tuding memasukkan dana ‘siluman’ bagaimana mungkin Mas Ahok dan Mas Jokowi bisa terkesan lepas dan bersih dari kasus ini serta tetap marah, teriak dan emosional? Itupun di depan kamera lagi. Jika demikian anda mestinya sudah tahu. Mas Jokowi juga tahu.

Mas Ahok, setelah anda berteriak dan ramai-ramai pendukung anda meminta untuk lebih baik melaporkan daripada berkoar demikian. Barulah anda melakukannya. Kenapa harus begitu, Mas? Tidakkah juga anda menyadari bahwa itu juga sama saja anda menuding diri sendiri dan juga Mas Jokowi. Apalagi ada yang lucu loh Mas. Jauh sebelum anda berteriak mengenai adanya dana siluman senilai 12 triliun dalam RAPBD 2015, masih ingatkah anda bahwa justru DPRD lah yang menuding anda dengan niatan menyuap mereka agar berkenan menerima draft APBD 2015 dan tidak ‘garang’ lagi dengan dana siluman senilai itu. Ini aneh kan? Tidak percaya? Cek saja lansiran berita di harian Merdeka online jauh sebelum anda berteriak di depan kamera. Tapi saya jadi gagal paham kenapa konten media tak mengimbangi publik dengan informasi ini? Entahlah, Mas.

Saya kok malah liar berpikir begini mas, di tengah ributnya publik dan dibantu media tiba-tiba ada ‘Serangan 1 Maret’ dengan tanpa ada angin atau hujan harga BBM jenis premium dan pertamax dinaikkan. Apakah? Ya Mas, apakah? Aduh, saya ingin membuang jauh-jauh pikiran liar itu. Tapi kenapa kemudian muncul pula kabar kalau pasangan anda dalam Pilgub DKI kemarin yang kini telah menjadi orang nomer satu di negeri ini akan berhutang. Mas, saya terkejutnya bukan karena niatan hutangnya yang dia tentang saat kampanye Pilpres 2014 silam. Keterkejutan itu adalah total nilainya yang menurut ‘kawan’ anda bernama MEDIA itu adalah 451,8 triliun rupiah Mas. Jika benar itu adalah kisaran total hutang Mas Harto selama 30 tahun memimpin. Yah, Mas Harto yang oleh pendukungmu, para kelas menengah berisik itu dibenci setengah hati dan disebut sebagai tiran sejati. Ah, saya pun benar-benar gagal paham Mas. Kenapa? Karena pasti saya dituduh haters, orangnya parpol X dan lainnya. Apa jika saya curhat lalu keliru? Apakah anda ataupun pasangan anda dulu itu adalah malaikat? Bukan toh?

Mas Ahok, draft APBD itu bukan kebijakan resmi karena masih rancangan. Tak bernilai apa-apa dibandingkan APBD 2014 yang anda teriakkan itu. APBD yang anda dan mas Jokowi tahu karena mestilah Mas Jokowi ikut tanda tangan karena itu kebijakam bersama antara eksekutif dan legislatif. Itupun proyeknya Disdik DKI Jakarta Mas. Yah, bawahan anda. Saat bus transJ bergulir dengan nilai koruptif dari 1 Miliar menjadi 3 miliar, siapa yang disalahkan dan ditangkap? Yah, Mas. Yang ditahan adalah Mas Udar dari Dishub. Kok bukan DPRD? Kok tidak Mas Ahok teriakkan di depan kamera dengan gaya marah-marah dan emosional? Dus, apa pikiran liar saya keliru mas? Aduh, maaf saya lupa. Anda dan Mas Jokowi tidak boleh dikritisi kan? Makanya Mas, saya curhat saja. Curhat karena saya gagal paham dan kian bingung. Untuk apa kegaduhan ini? Media mainstream dan sosial pun telah berganti topik dari ketidaktegasan Mas Jokowi dalam kisruh KPK vs Polri menjadi topik tentang aksi anda. Publik pun juga tak sadar kenapa ada “Serangan 1 Maret” sehingga tak riuh seperti biasa. Mereka juga tak riuh soal rencana hutang besar-besaran itu, pun juga kelas menengah berisik pendukungmu. Mereka pun sunyi senyap, entah kenapa.

Mas Ahok, saya cukupkan sekian dulu curhat ini. Lain kali saya sambung. Terima kasih ya Mas. Salam dan shalom.

“PENJARA” AL-CATRAZ
Minggu, 1 Maret 2015
Pukul 18.00

By Bustomi Menggugat

Bustomi Menggugat adalah Direktur Institute for Strategy and Political Studies (INTRAPOLS). Keseharian beliau selain riset dengan berbagai lembaga, mengisi program TV dan radio juga kerap diundang mengisi topik dan isu-isu sosial politik. Bustomi Menggugat juga merupakan tim peneliti berbagai lembaga asing untuk riset di Indonesia sejak 2009 hingga saat ini mulai dari Amerika Serikat, Australia hingga Singapura. Di luar aktivitas hariannya, beliau menyukai dunia travelling, tulis menulis dan blogging sehingga kerap diminta mengisi dengan topik terkait oleh berbagai lembaga dan komunitas serta menggawangi dua media daring di Indonesia. Untuk mengundang beliau bisa kontak berikut ini: Email: [email protected] Kontak: 0822-2808-1483 (Whatsapp Only)

Leave a Reply